untuk informasi mengenai visi misi dll
akan di post beberapa hari lagi
beberapa materi wanapala adalah sebagai berikut
1.survival
Pengertian
Survival
Definisi sederhana suatu kondisi
yang sangat minim (Primitif), hidup dari alam sekitarnya, atau perjuangan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup dari keadaan sulit di Hutan belantara atau
lingkungan yang mengancam jiwa.
Survival
dapat diartikan juga sebagai berikut:
S : Sadar dalam keadaan gawat darurat
U : Usahakan untuk tetap tenang dan tabah
R : Rasa takut dan putus asa hilangkan
V : Vitalitas tingkatkan
I : Ingin tetap hidup dan selamat itu tujuannya
V : Variasi alam bisa dimanfaatkan
A : Asal mengerti, berlatih dan tahu caranya
L : Lancar, slaman, slumun, slamet
S : Sadar dalam keadaan gawat darurat
U : Usahakan untuk tetap tenang dan tabah
R : Rasa takut dan putus asa hilangkan
V : Vitalitas tingkatkan
I : Ingin tetap hidup dan selamat itu tujuannya
V : Variasi alam bisa dimanfaatkan
A : Asal mengerti, berlatih dan tahu caranya
L : Lancar, slaman, slumun, slamet
Jika anda tersesat atau mengalami musibah, ingat-ingatlah
arti survival tsb, agar dapat membantu anda keluar dari kesulitan. Dan yang
perlu ditekankan jika anda tersesat yaitu istilah “STOP” yang artinya :
S : Stop & seating / berhenti dan duduklah
T : Thingking / berpikirlah
O : Observe / amati keadaan sekitar
P : Planning / buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan
S : Stop & seating / berhenti dan duduklah
T : Thingking / berpikirlah
O : Observe / amati keadaan sekitar
P : Planning / buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan
Faktor
Penyebab Survival
Seseorang terpaksa harus melakukan survive dapat
diakibatkan beberapa faktor seperti:
a. Tersesat saat
melakukan perjalanan
b. Kecelakaan
pesawat/kapal
c. Terhimpit
reruntuhan bangunan
d. Hanyut, dll
Survival merupakan cara hidup sederhana dengan
pertimbangan waktu yang singkat untuk melakukan improvisasiyang menguntungkan
dalam upaya mempertahankan hidup hingga datangnya bantuan. Dan fungsi
keberhasilannya adalah bagaimana memanfaatkan otak untuk berimprovisasi.
Sikap
Dalam Survival
Sebesar apapun rintangan semua orang pasti akan dapat
mengatasinya dengan sikap mental positif. Sikap demikian merupakan awal dari
keberhasilan menghadapi tekanan, sekitar 100% tantangan dalam kondisi survival
adalah faktor psikologis, otak menjadi alat yang sangat penting untuk mengenal
kebutuhan hidup dan bagaimana cara memperoleh.
Pengalaman dengan berbagai macam
situasi akan menghasilkan langkah yang tepat, karena kondisi darurat yang
dialami mempunyai kesamaan dengan pengalaman yang pernah dialaminya. Latar
belakang ini akan membuat cara berfikir yang logis dan ini adalah cara efektif
untuk mengontrol situasi.
Teknik
Survival
Hal yang harus diketahui oleh para survive adalah
kebutuhan hidup manusia, apa saja kebutuhan dasar manusia untuk hidup? Di bawah
ini akan dijelaskan kebutuhan dasar manusia antara lain:
a. Keinginan untuk
hidup (Positif Mental Attitude)
Udara, Shelter, Istirahat, air dan makanan merupakan
kebutuhan yang logis. Seringkali orang melupakan hal yang paling penting dalam
kegiatan survival yaitu sikap mental yang positif dan ketepatan dalam memandang
ke depan. Untuk keluar dari situasi darurat. Kebiasaan ini memerlukan latar
belakang pengetahuan dan keterampilan untuk melindungi dari keadaan alam yang
tak bersahabat.
b. Udara
Bernafas merupakan hal yang paling esensial karena dapat
mempertahankan hidup dari menit ke menit. Rata-rata orang bisa hidup tanpa
udara sekitar 3-5 menit. oleh karena itu udara adalah komponen penyokong hidup
yang utama.
c. Shelter
Shelter (Perlindungan) biasa diartikan dengan tempat
tinggal sementara, akan tetapi dalam menghadapi kondisi alam bebas shelter di
sini dapat diartikan semua alat yang dapat memproteksi dari kondisi lingkungan
yang ekstrem. Contoh dari shelter antara lain baju hangat, tenda , gua, dll.
Apabila survivor tidak mampu membuat alat perlindungan, maka dia hanya dapat
bertahan beberapa jam saja.
d. Istirahat
Istirahat merupakan kebutuhan tubuh, dengan mengistirahatkan
tubuh kita akan merasakan seperti ada pembaharuan dan tambahan kekuatan
walaupun dalam kondisi survive. Dengan istirahat tubuh dapat menyimpan dan
menghemat tenaga, menjaga kekuatan tubuh sangat penting ketika menghadapi
situasi darurat. Dalam hal ini yang harus diistirahatkan tidak hanya fisik
kita, tetapi juga mental kita. Rata-rata pada situasi survive orang yang tidak
beristirahat akan bertahan sekitar 30 jam saja.
e. Air
Air adalah kebutuhan dasar untuk pengaturan suhu tubuh,
memperlancar buang air dan mencerna makanan. Manusia terdiri dari 2/3 air, yang
berada pada sistem sirkulasi dan bagian dalam organ tubuh. Saat istirahat badan
menggunakan kira-kira 2 ¼ L air setiap hari hanya untuk menjalankan fungsi
tubuh normal. Dalam kondisi ekstrem manusia hanya bisa bertahan tanpa air
sekitar tingga hari saja. Langkah yang bijaksana bila menghemat air untuk
digunakan dalam mempertahankan hidup.
f. Makanan
Makanan sangat diperlukan tubuh, karena makanan akan
menghasilkan kalori dan tenaga. Selain itu, makanan juga berfungsi untuk
mempertahankan suhu tubuh. Catatan dan data dari pengalaman survival
menunjukkan bila seorang tanpa makanan hanya bertahan sekitar 3 mingguan.
g.
Api
Api sangat bermanfaat dalam upaya melakukan perjuangan
hidup seperti menghangatkan tubuh, memasak, membuat sinyal dll. Cara membuat
api harus memperhatikan segitiga api (Bahan bakar, panas, oxigen) ketiga unsur
ini tidak dapat dipisahkan, jika terjadi pemisahan api pasti akan mati.
Prioritas kebutuhan Hidup Dalam Survival
1. Keinginan Untuk Hidup
2. Udara
3. Shelter
4. Istirahat
5. Tanda (Kalau Ingin Ditemukan)
6. Air
7. Makanan
Tabel
Kebutuhan Hidup Berdasarkan Waktu Survival
No
|
Kebutuhan
Hidup
|
Waktu
Survival
(Apabila
tidak terpenuhi)
|
1.
|
Keinginan
untuk hidup
|
Sepenuhnya
tergantung pada individu
|
2.
|
Oksigen
|
3 sampai
6 Menit
|
3.
|
Perlindungan
tubuh dari suhu ekstrem
|
3 sampai
4 jam
|
4.
|
Istirahat
Fisik dan mental
|
30 jam
kondisi ekstrem
|
5.
|
Air
|
3 hari
kondisi ekstrem
|
6.
|
Makanan
|
3 minggu
atau lebih
|
Tindakan Saat Musibah
Beberapa pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk tetap tinggal di lokasi dan menunggu pertolongan tim SAR adalah :
* Survivor mengetahui bahwa telah terindeks oleh hubungan radio. Atau rute perjalanan ada yang mengetahui.
* Cari daerah terbuka untuk memudahkan tim SAR mengetahui dan bisa melakukan komunikasi lapang.
* Cari lokasi yang terdapat sumber air dan persediaan makanan.
Menangani survivor yang menderita
Tindakan yang perlu dilakukan :
• Rawat survivor yang menderita atau sakit
• Membuat tempat berlindung yang aman dari cuaca buruk dan hewan yang berbahaya
• Hemat persediaan makanan yang ada dan berusaha untuk mencari tambahan di sekitar lokasi
• Siapkan dan buatlah tanda darat ke udara dengan piroteknik maupun dengan benda lainnya. Seperti smoke signal, flare, cermin, kain warna kontras, asap hasil membakar sampah, dan lain lain.
Tindakan bila meninggalkan lokasi :
1. Siapkan bahan dan perlengkapan yang berguna dan dapat dibawa dalam perjalanan
2. Tentukan arah yang dituju berasarkan kompas, matahari, atau alat penunjuk lainnya.
3. Tinggalkan pesan yang berisi jumlah survivor, kondisi fisik, perlengkapan dan bahan yang dibawa, serta arah yang dituju
4. Buatlah jejak yang jelas selama melakukan perjalanan
5. Ikuti punggungan gunung dan jangan mengikuti lembah atau sungai apabila berada di daerah pegunungan
6. Carilah makanan dan air sebelum persediaan yang dibawa habis
7. Cari dan buatlah tempat perlindungan atau bivak dan hindari melakukan perjalanan malam
8. Buatlah perapian untuk memasak, menghangatkan tubuh untuk melindungi diri dari serangga dan binatang buas.
Beberapa hal yang harus diingat bila survivor adalah sebuah kelompok:
1. Setiap kegiatan survival harus terorganisir
2. Tentukan hanya satu pemimpin
3. Kembangkan rasa ketergantungan
4. Dalam keadaan apapun pemimpin harus siap mengambil keputusaan dan kelompok harus dalam keadaan utuh.
PIONERING
Pengetahuan pionering dimaksudkan untuk memberikan petunjuk bagaimana seorang penjelajah melakukan perjalanan di alam bebas. Hal ini dimaksudkan untuk membantu seorang penjelajah untuk merambah hutan atau daerah yang sangat rawan dalam maksud apapun yaitu dengan jalan pemilihan lintasan yang nantinya akan membantu seorang petualang.
Yang perlu diperhatikan oleh seorang pioner adalah bagaimana dia membawa diri atau kelompoknya untuk mencapai target yang disepakati dengan selamat. Oleh sebab itu seorang pioner harus memiliki pengetahuan dalam mencari jalan yang baik, enak, dan nyaman. Kedua adalah mencari tempat berlindung yang baik serta mampu membaca situasi disekelilingnya. Ketiga membuat perapian. Keempat adalah dapat mencari makanan (survival).
Pemilihan lintasan ini ada beberapa cara antara lain yang sering dilakukan adalah:
1. Memilih jalan setapak yang telah dibuat oleh penduduk setempat atau jalan yang telah biasa dilalui oleh sekelompok binatang hutan. Dapat juga memilih lintasan yang mudah yaitu dengan mengikuti aliran sungai yang dangkal dan daerah yang terbuka.
2. Mengikuti punggungan gunung.
Tetapi harus hati-hati dalam memilih jalan ini karena binatang buas sering menggunakan jalur ini karena lebih baik mencari mangsa di ketinggian dan lebih aman.
Membaca jejak sangat berguna bagi seorang pioner.
Biasanya pembacaan jejak dilakukan dengan jalan:
1. Membaca tanda-tanda jejak yang terdapat di tanah.
2. Terdapat ranting patah.
3. Sisa makanan.
4. Cacat khusus pada pohon atau tanaman.
5. Dan sebagainya.
Cara membaca jejak dapat dilakukan dengan memperhatikan sekeliling apakah ada keanehan atau perubahan disekeliling dengan tanda-tanda khusus seperti didsebutkan di atas.
Dalam mencari tempat berlindung yang baik dan perlu diingat adalah :
1. Mencari suatu tititk ketinggian dari daerah sekitarnya.
2. Memperhatikan arah mata angin.
3. mencari tanah yang kering.
4. Dianjurkan jangan di bawah pohon lapuk.
BIVAK
Pengertian yang umum adalah tempat tinggal sementara untuk bertahan hidup yang besifat melindungi dari serangan hawa panas atau dingin dan tempat untuk beristirahat. Hal ini berhubungan dengan survival dalam hal mencari tempat berlindung untuk melakukan pertahanan hidup dari kondisi lingkungan yang buruk. Pembuatan bivak dapat dilakukan dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam, seperti daun dan ranting kayu.
Bila seorang pendaki atau bersama-sama pastikan membawa tenda atau minimal jas hujan dan kantong plastik besar. Tenda merupakan tempat yang paling baik untuk beristirahat dan menentukan target berikutnya untuk esok hari dalam perjalanan serta aman dari angin dan hujan. Untuk itu diperlukan pengetahuan untuk mendirikan bivak yang sesuai dengan syarat:
1. Bangun pada tempat yang datar
2. Jangan mendirikan bivak di puncak gunung
3. Jangan mendirikan tenda di puncak dan terbuka untuk menghindari bahaya petir
4. Jangan mendirikan tenda tepat di tempat yang cekung
5. Hindari pendirian tenda tepat di bawah kayu lapuk atau mati
6. Tempatkan bagian terbuka dari bivak berlawanan dengan arah mata angin. Dengan mengetahui arah mata angin, maka lebih mudah membaca jatuhnya air hujan sehingga dapat menentukan tempat perapian yang baik.
1. Tujuan Bivaking :
a. Melindungi diri dari faktor alam dengan tidak merusak lingkungan alamnya.
b. Merupakan teknik survival
c. Tempat koordinasi/perencanaan lebih lanjut
d. Sebagai tanda komunikasi.
2. Sebab-sebab bivack:
a. Tersesat
b. Perjalanan terhenti karena hujan
c. Kemalaman
d. Operasi SAR, dll.
3. Pembuatan bivack:
a. Bahan dari alam pohon (utuh maupun tumbang)daunan, ranting, gua, atau lobang.
b. Bahan sintetik berupa bahan yang kita bawa seperti ponco, parachute, tali, dsb
4. Jenis bivack:
a. Bivoack darurat berupa daunan dan ranting
b. Bivoack sementara berupa ponco
c. Bivoack semi permanen berupa gua atau gubuk sederhana.
5. Pemilihan tempat
6. Kemiringan (pengaruh arah angin dan aliran air)
a. Teduh dan perlindungan dari air
b. Keamanan dari faktor alam
c. Lapang
d. Pemandangan indah
e. Jenis tanah (stabil/labil)
f. Dekat dari fasilitas yang dibutuhkan seperti air,sumber makanan.
Tempat membangun bivak
Pada dasarnya bivak bisa dibuat di atas pohon dengan jalan membuat penyangga. Usahakan dengan menggunakan bahan yang kuat seperti bambu, kayu, dll.
Pada umumnya bivak dibuat di atas tanah yang dapat dilakukan pada:
1. Bekas pohon yang telah tumbang yang membentuk rongga di bawahnya. Tetapi harus diperhatikan kualitas kayunya demi keselamatan kita.
2. Bila ditemukan gua sebaiknya diperiksa sekitar gua apakah ada jejak, bau amis, sisa kotoran dari binatang buas. Jika tidak ada, gua dapat ditempati tetapi sebelumnya harus dibersihkan dulu.
3. Membangun dari bahan-bahan yang ada di sekitar kita.
4. Pada daerah yang berbatu, carilah daerah berbatu kokoh dan tidak mudah runtuh.
B. Cara membangun bivak
1. Lakukan penyesuaian antara tempat dengan tenda yang kita bawa. Itu kalau kita membawa tenda.
2. Ponco atau kantong plastik.
3. Menggunakan bahan-bahan alam.
F. PENGETAHUAN FLORA DAN FAUNA
1. Definisi
Pengetahuan tentang segala macam jenis tumbuhan dan hewan baik yang beracun maupun tidak yang dapat digunakan untuk mempertahankan hidup dalam keadaan darurat.
2. Flora
Begitu banyak tumbuhan yang ada disekitar tropis (300.000 jenis tumbuhan ) sehinga kita tidak kesulitan menentukan yang aman untuk dimakan.
Beberapa patokan yang dapat dipakai:
a. Hindari tanaman yang daunnya berbulu
b. Hindari tanaman yang bergetah putih
c. Hindari tanaman yang rasannya aneh(gatal, panas, getir)
d. Hindari tanaman yang warnanya mencolok
e. Makanlah tanaman yang dimakan binatang terutama monyet
f. Cara mengenal dan merasakan adalah dengan ujung lidah, apabila ada rasa yang aneh jangan diteruskan atau dengan menggunakan bahan logam dari stainless (pisau, silet,
dll)ditorehkan, tunggu beberapa waktu apabila ada perubahan berwarna ungu termasuk beracun.
Jenis tumbuhan yang dapat dimakan:
a. palmae dimakan umbinya
b. rotan dan genang dimakan umbinya
c. umbi-umbian kecuali daunnya yang berwarna biru, kecuali dalam keadaan terpaksa maka rendamlah dalam air mengalir selama minimal 24 jam.
d. Tumbuhan melata seperti semanggi, daun kaki kuda, krokot, dapat langsung dimakan tanpa direbus.
e. Rumput alang-alang dimakan ubinya.
f. Talas dapat dimakan mulai umbinya sampai dengan daunnya dengan cara direbus berulang-ulang.
g. Perdu, rassa mala, ciplukan, murbai hutan dapat dimakan buahnya.
h. Pakihaji dimakan umbinya tetapi tidak biji dan daunnya.
i. Tumbuhan yang beracun adalah sogotelik, biji dan batangnya beracun, tapi daunnya untuk obat batuk. Sedangkan jarak racun ada dibijinya.
3. Fauna
a. Vertebrata, hampir semua hewan bertulang belakangdapat dimakan kecuali yang berkelenjar bau.
1) Aves, umumnya daging dan telornya dapat dimakan kecuali yang memakan buah-buahan yang beracun.
2) Reptil, kura-kura, penyu tidak berbahaya untuk dimakan daging dan telurnya kecuali penyu air tawar jantan yang pada masa sedang kawin, karena dagingnya beracun.
3) Ular yang dapat dimakan adalah ular yang tidak berbisa, dengan dimasak terlebih dahulu, contohnya ular sanca. Selain itu ular yang berbisa pun dapat dimakan asal kita tahu bagian tubuh yang berbisa, misalnya ular tanah dibuang 1/3 bagian depan, ular laut (abu-abu kehitaman) buang ½ dari depan.
4) Biawak, kadal, cecak, tokek dimasak dengan dibuangkepalanya.
5) Ampibi semua dapat dimakan kecuali katak buduk dan katak pohon kecuali kakinya, tetapi katak ini mempercepat denyut jantung
6) Ikan, semua ikan dapat dimakan kecuali ikan buntel (ikan kembung)
7) Cacing, cacing tanah dapat dimakan setelah dibuang isi perutnya.
b. Invertebrata
1) Insecta: lebah, capung, jangkrik, laron dapat dimakan dengan direbus atau dibakar.
2) Mulosca: siput, kerang, tripang, remis dapat dimakan tapi jangan terlalu banyak karena dapat menyebabkan keracunan.
Cara mengenal dan merasakannya
Untuk dapat memahami dan mengenal suatu rasa untuk dapat dimakan atau tidak ada hal-hal yang perlu diperhatikan:
a. Masak terlebih dahulu sesempurna mungkin
b. Kunyah beberapa waktu jangan ditelan
c. Manfaatkan flora dan fauna yang sudah dikenal dan tidak berbahaya,jangan mencoba- coba kecuali terpaksa.
Catatan : survival bukanlah suatu ilmu yang hanya cukup teori saja tetapi mengenal flora & fauna adaptasi secara langsung.
CARA MENGAMBIL AIR
Ketahanan hidup manusia tergantung dari air,setelah itu baru faktor-faktor lain.Dengan bekal air saja kita bisa bertahan hidup sampai waktu 2 minggu, tetapi hidup tanpa air kita akan bertahan
2-5 hari.
1. Mencari air pada pegunungan perkapuran dan daerah kering lainnya.
Pada daerah kapur air dapat diperoleh melalui ceruk-ceruk dan gua-gua yang banyak dijumpai kemungkinan air berasal dari tetesan air gua yang berasal dari langit-langit.
2. Pada daerah pasir atau kering lainnya.apabila pada kondisi tersebut tidak dapat ditemukan air dapat diperoleh dengan cara destilasi sederhana.
Alat yang dibutuhkan
-Rantang/nesting atau alat penampung lainnya
-selembar plastik atau ponco.
-pemberat dan pencepit.
Mencari air pada hutan hujan daerah tropis
Untuk mencari pada daerah hutan hujan tropis lebih mudah dari bekas curahan air hujan yang terkumpul dari cekungan batu, atau dilekukan daun. Pada musim hujan air terdapat pada tetesan embun yang menempel dirumput atau lumut. Dengan mengusapkan sapu tangga atau media lain
yang meresap diperas atau langsung diisap.
Cara lain mendapatkan air
- Pada pohon pisang masih hidup dibuat lobang
- Pada rotan untuk mendapatkan air pililah rotan yang rendah lalu potong 4 sampai 5 kaki, maka air akan menetes.
- Daging ikan, sayatannya masukkan dalam sapu tangan kaku, peras dengan kuat sampai menetes
cairan yang siap diminum.
- Pada tumbuhan kaktus,ambil getahnya lalu diminum
Catatan: Dalam keadaan apapun jangan sampai minum air kencing.
TANDA DAN ISYARAT
Usaha mempertahankan hidup, suvivor harus berusaha membuat tanda dan isharat agar mudah ditemukan regu pencari.
1. Tanda dan isyarat berupa api, asap, kaca, atau alat lain yang menarik perhatian.
2. Rencanakan isyarat yang digunakan sesuai sarana. Bertindaklah sesuai dengan kemampuan bila terdengar denggung pesawat atau helikopter. Usahakan menggirim isyarat walaupun
pesawatnya sudah berlalu. Sebab memungkinkan isyarat tersebut tidak terlihat pada sapuan pertama atau kedua, biasanya penyapuan dilakukan berulang-ulang (3 Kali)
3. Tanda isyarat yang paling menguntungkan adalah api, karena bisa menghangatkan badan dan memasak, asapnya bisa dipakai sebagai tanda SAR darat dan udara. Untuk mendapatkan asap yang putih dipakai waktu mendung, bakarlah daun-daun muda, bila cuaca cerah pakailah asap hitam bahan sintetis.
4. Tanda selain asap adalah bunyi-bunyian.
5. Isyarat-isyarat yang penting (terbuat dari batu-batuan dan
ditempat yang lapang)
a. luka parah
b. perlu obat-obatan
c. perlu peta kompas
d. minta makanan dan air
e. perlu lampu dan cahaya dengan baterai dan radio komunikasi
f. kemungkinan aman untuk mendaratan
g. semua dalam keadaan baik
CARA MEMBUAT API TANPA KOREK
1. Persiapan
Sediakan dahulu penyala yang kering betul sebelum kita memulai membuat api tanpa korek, setelah disiapkan lindungilah penyala ini dari angin dan kelembaban. Penyala yang baik sekali adalah kawut. Carilah kain, tali, pucuk palem yang mati, kulit kayu yang dicabik halus-halus, bubuk kayu kering, sarang burung, bahan bahan berambut dari tumbuhan bubuk kayu yang dibuat oleh serangga yang biasanya dijumpai dibawah batang yang mati.
2. Matahari dan gelas
Lensa kamera, lensa cembung dari teopong atau lensa teleskop atau lensa senter dapat dipakai untuk menyatukan cahaya matahari pada penyala kita.
3. Batu api dan baja
Bila mungkin inilah yang tebaik untuk menyalakan penyala bila kita tidak mempunyai korek api. Dekatkan penyala pada batu api, goreskan bajanya sehingga keluar percikan api yang mendekati
penyala api, kibas-kibaslah atau tiup bila penyala telah terbakar.
4. Gesekan kayu
Karena dengan jalan gesekan kayu adalah cara yang paling sukar, pakailah cara ini apabila tidak ada cara lain.
a. Busur dan gundi, buatlah busur yang kuat dengan mengunakan tali sepatu atau tali yang lain. Gurdikan kayu yang keras pada kayu yang lain sehingga keluar asap dan sediakan penyala agar mudah tebakar.
b. Tali api, pakailah seutas rotan yang kering kira-kira 2,5 cm dan kayu kering, belah dan ganjal kayu itu dengan batu, letakan ditanah,t aruhlah belahan itu pada penyala dan mulailah menarik rotan tersebut pula bolak-balik pada penyala sampai timbul asap.
c. Gesekan kayu atau bambu satu sama lain sehingga panas sekali dan timbul api. Cara ini paling sering digunakan.
d. Bubuk mesiu, tempatkan serbuk mesiu pada kayu yang telah dipukul-pukul dan mulailah mengoreskan dua buah batu hingga timbul percikan api, api tersebut dapat menyalakan bubuk mesiu
YANG HARUS DIINGAT DALAM KEADAAN SURVIVAL
1. Bersikaplah tenang
2. Hemat tenaga
3. Hindari sengatan matahari secara langsung
4. Jangan membuang atau membuka perlengkapan pelindung badan dengan alasan akan memberatkan didaerah gersang dan tandus kecuali keadaan memungkinkan.
5. Istirahat ditempat yang teduh dan jangan berbaring karena dapat menaikkan suhu badan.
6. Ingat selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
7. Jangan merokok
8. Cari makan dan minuman sebelum letih
9. Kreatif jangan malas apalagi apatis.
Mengatasi Gangguan Binatang
a. Nyamuk
* Obat nyamuk, autan, dll
* Bunga kluwih dibakar
* Gombal dan minyak tanah dibakar kemudian dimatikan sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk
* Gosokkan sedikit garam pada bekas gigitan nyamuk
b. Laron
* Mengusir laron yang terlalu banyak dengan cabe yang digantungkan
c. Lebah
Apabila disengat lebah :
* Oleskan air bawang merah pada luka berkali-kali
* Tempelkan tanah basah/liat di atas luka
* Jangan dipijit-pijit
* Tempelkan pecahan genting panas di atas luka
d. Lintah
Apabila digigit lintah :
* Teteskan air tembakau pada lintahnya
* Taburkan garam di atas lintahnya
* Teteskan sari jeruk mentah pada lintahnya
* Taburkan abu rokok di atas lintahnya
e. Semut
* Gosokkan obat gosok pada luka gigitan
* Letakkan cabe merah pada jalan semut
* Letakkan sobekan daun sirih pada jalan semut
f. Kalajengking dan lipan
* Pijatlah daerah sekitar luka sampai racun keluar
* Ikatlah tubuh di sebelah pangkal yang digigit
* Tempelkan asam yang dilumatkan di atas luka
* Bobokkan serbuk lada dan minyak goreng pada luka
* Taburkan garam di sekeliling bivak untuk pencegahan
les
Tanaman berbunga ini tumbuh di alam liar di lapangan terbuka di seluruh Eropa. Dibedakan oleh daun runcing, thistle dapat berfungsi sebagai potherb lezat. Hanya memotong ujung daun yang tajam, mengupas kulit akar dan gunakan air garam mendidih untuk memasak tanaman.
2. Mushrooms
Sebelum Anda mulai mengumpulkan jamur liar, identifikasi spesies beracun yang tumbuh di daerah Anda. Meskipun sebagian besar bisa dimakan, lebih baik bermain aman. Juga, jangan pernah makan mentah-mentah dan jauhi jamur yang telah rusak oleh serangga
3. Selada Air
Potherb abadi ini biasanya tumbuh di dekat badan air, jadi pastikan sumber air bersih sebelum dikonsumsi. Sejak selada air dapat dimakan mentah, yang harus Anda lakukan adalah memotong batang dan bilas dengan air dingin.
4.Common Chickweed
Tanaman tahunan ini menghasilkan bunga yang berbeda, berbentuk bintang. Daun dan batang yang dapat dimakan dan dapat dimakan mentah. Biasanya dianggap sebagai gulma yang menjengkelkan, Common chickweed adalah sumber yang kaya potassium dan kalsium
5. Padi Liar
Rumput tinggi ini berkembang dalam koloni besar di tepian sungai dan dapat dengan mudah dipetik dan diangkut dengan bantuan sebuah kano atau perahu kecil. Mirip dengan buluh pada padi biasa, nasi merupakan sumber protein, dan batang, akar tunas dan biji-bijian semua dapat dimakan
6.Clover
Genus kosmopolitan ini mudah ditemukan di padang gurun. Bijinya bisa dimakan, dan kepala bunga kering dapat digunakan untuk menyeduh teh. Anda dapat makan daun mentah, hanya membenamkan mereka dalam air garam pertama untuk membantu pencernaan.
7.Burdock
Onak dua tahunan ini tumbuh subur di padang rumput terbuka dan kebun, tetapi mereka bukan merupakan gulma sia-sia. Anda dapat mengupas tangkai daun dan memakannya mentah, dan akar bisa dimakan juga. Berhati-hatilah untuk tidak salah tanaman ini dengan belladonna, yang beracun
8.Dandelions
Gulma berbunga ini berjalan merajalela di seluruh negeri, dan biji, mahkota, akar, daun dan kelopak bunga semuanya dapat dimakan
9.Milkweed
Milkweed bisa dimakan tetapi dapat berpotensi mengandung glikosida jantung, yang beracun. Jadi, sangatlah penting bahwa Anda mempersiapkan tanaman liar ini dengan hati-hati sebelum dikonsumsi.Rendam seluruh tanaman dalam air dan gosok tunas muda dengan kain. Anda kemudian dapat merebus mereka. Benih polong dapat dimakan juga
10.Cattails
Monokotil tinggi ini berkembang di dalam atau di dekat badan air. Mengupas lapisan luar untuk mengungkapkan tunas inti putih, gunakan air bersih untuk membilas mereka dan makan tunas tender ini mentah atau dimasak. Tinggi kandungan pati, akar mereka juga dimakan
11.Yucca
Yucca paling sering terdapat pada iklim kering, dan kelopak dapat dimakan mentah. Buah ditemukan pada batang juga dapat dimakan mentah, asalkan bagian daging buah berwarna putih
12.Persimmons / kesemek
Dianggap “buah dewa” oleh orang Yunani kuno, buah jeruk ini biasanya tumbuh di pohon-pohon di daerah beriklim sedang. Lembut ketika masak, kesemek dapat dimakan mentah, dan Anda juga dapat panggang bijinya untuk membuat kopi.
13.Prickly Pear / pear kaktus
Kaktus seperti ini tumbuh subur di tanah kering, dan keduanya pad dan pir nya bisa dimakan. Untuk makan pad, potong punggungnya dengan menggunakan pisau, panggang mereka dan kupas lapisan luar. Makan pir, hanya mengupas kulitnya saja.
14.Bulrush
Bulrush biasanya tumbuh di dalam atau di sekitar rawa-rawa, dan akarnya, batang dan biji semua dimakan, apakah masak atau mentah.
15.Lamb’s Quarters
Banyak orang salah menafsirkan tanaman tahunan ini seperti rumput tak berharga, tetapi Lamb’s Quarters sebenarnya dapat dimakan dan sangat bergizi. Bijinya bisa dijadikan snack sehat dan daunnya mirip dengan bayam ketika dimasak.
16.Leeks
Menyerupai bawang dalam penampilan dan bau, bawang perai liar biasanya muncul selama musim semi jauh di dalam hutan. Kedua daun dan umbi dapat dimakan dan dapat dimakan mentah, dikukus, digoreng atau dipanggang.
17.Wild Carrot
Meskipun lebih keras daripada yang Anda beli di toko kelontong, wortel liar tumbuh di lahan kering, dan akarnya dapat dimakan. Hanya berhati-hatilah untuk tidak kesalahan dengan spesies beracun serupa seperti air hemlocks dan fool’s peterseli.
18.Arrowhead
Tanaman ini biasanya tumbuh jarang di tubuh genangan air. Melekat pada akar tanaman air ini, yang menyerupai umbi kentang dikupas dan sebaiknya kemudian dipanggang.
19.Spring Beauty:
Muncul pada awal musim,tumbuh subur di hutan lembab. Hanya tarik daun sempit yang menonjol dari tanah untuk mengeluarkan umbinya, mengupas lapisan luar, cuci, masak atau konsumsi mentah-mentah.
20.Wild Onion
Ditemukan pada berbagai dataran, seperti lereng berbatu, padang rumput dan hutan, bawang liar bau dan rasa yang mirip dengan bawang biasa. Hanya lepaskan lapisan luar dan didihkan dalam panci berisi air garam
2.mountainerring
Secara bahasa arti kata Mountaineering adalah teknik mendaki gunung. Ruang lingkup kegiatan Mountaineering sendiri meliputi kegiatan sebagai berikut :
SEJARAH SINGKAT MOUNTAINEERING
Pendakian gunung sebenarnya telah
dilakukan oleh para nenek moyang kita yang dimulai dengan bapak manuasia
Nabi Adam AS yang menjelajahi bukit tursina untuk mencari cintanya Siti
Hawa. Siti Hajar yang telah lintas dari bukit marwah ke bukit Safa ditemani dengan sherpa
JIBRIL untuk mencari air bagi ismail yang lagi kehausan. Dan pendakian
demi pendakian hingga saat ini masih terus berlangsung dan kelak (tak
lama lagi ) giliran kalian untuk melanjutkan amanah menjaga kelanggengan
kemanusian.
a. Sejarah Dunia
1942 : Anthoine de Ville memanjat tebing Mont Aiguille (2907 m) di pegunungan alpen untuk berburu chamois (Kambing gunung)
1624 : Pastor pastor Jesuit, melintasi pegunungan himalaya dari gharwal di Iindia ke Tibet menjalankan tugas misionarisnya
1760 : Professoe de Saussure menawarkan
hadiah besar bagi siapa saja yang dapat menaklukkan puncak mont blanc
guna kepentingan ilmiahnya.
1786 : Puncak tertinggi di pegunungan alpen Mont Blanc (4807 m) akhirnya dicapai oleh Dr. Michel Paccaro dan Jacquet Balmat.
1852: Batu pertama jaman keemasan dunia keemasan di Alpen diletakkan oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke puncak Wetterhorn (3.708 m), cikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga.
1852 : Sir George Everest, akhirnya
menentukan ketinggian puncak tertinggi dunia, dan di abadikan dengan
namanya (8.848 m), orang Nepal menyebut puncak ini dengan nama
sagarmatha, orang tibet menyebutnya chomolungma.
1878 : Clinton Dent (bukan pepsoden)
memnjat tebing Aigullie de dru di perancis yang memicu trend pemanjatan
tebing yang tidak terlalu tinggi tetapi cukup curam dan sulit, banyak
orang menganggap peristiwa ini adalah kelahiran panjat tebing
1895 : AF Mummery orang yang disebut
sebagai bapak pendakian gunung modern hilang di Nanga Parbat (8.125 m),
pendakian ini adalah pendakian pertama puncak di atas ketinggian 8.000 m
1924 : Mallory dan Irvina mencoba lagi mendaki Everest, keduanya hilang di ketinggian sekitar 8.400 m
1953 : Pada tanggal 29 mei Sir Edmund Hillary dan Sherpa Tenzing Norgay akhirnya mencapai atap dunia puncak everest.
b. Sejarah Indonesia
1623 : Yan Carstenz adalah orang pertama melihat adanya pegunungan sangat tinggi, dan tertutup salju di pedalaman irian
1899: Ekspedisi Belanda pembuat peta di Irian menemukan kebenaran laporan Yan Carstensz
hampir 3 abad sebelumnya tentang “ … pegunungan yang sangat tinggi, di
beberapa tempat tertutup salju!” di perdalaman Irian. Maka namanya
diabadikan sebagai nama puncak yang kemudian ternyata merupakan puncak
gunung tertinggi di Indonesia.
1962 : Puncak Carstenz akhirnya berhasil dicapai oleh tim pimpinan Heinrich Harrer.
1964 : Beberapa pendaki Jepang dan 3 orang Indonesia, yaitu Fred Athaboe, Sudarto dan Sugirin, yang tergabung dalam Ekspedisi Cendrawasih, berhasil mencapai Puncak Jaya di Irian. Puncak yang berhasil didaki itu sempat dianggap Puncak Carstensz, sebelum kemudian dibuktikan salah.
Puncak Eidenburg, juga di Irian, berhasil di daki oleh ekspedisi yang dipimpin Philip Temple.
Dua perkumpulan pendaki gunung tertua di Indonesia lahir : Wanadri di Bandung dan Mapala UI di Jakarta, lalu di susul oleh perkumpulan perhimpunan pencinta alam lainnya mulai dari, MPA,SISPALA, KPA, ERNIPALA, MODIPALA dan sebagainya
1972 : Mapala UI, diantaranya adalah Herman O. Lantang dan Rudy Badil, berhasil mencapai Puncak cartenz. Mereka merupakan orang-orang sipil pertama dari Indonesia yang mencapai puncak ini.
E. PERSIAPAN DALAM SEBUAH PERJALANAN
1. Dapat berpikir secara logis.
Ini adalah elemen yang terpenting dalam
membuat keputusan selama pendakian, dimana cara berpikir seperti ini
lebih banyak mempertimbangkan faktor safety atau keselamatannya.
2. Memiliki pengetahuan dan keterampilan.
Meliputi pengetahuan tentang medan (
navigasi darat) ,cuaca dan teknik pendakian , pengetahuan tentang alat
pendakian atau pemanjatan dan sebagainya.
3. Dapat mengkoordinir tubuh kita.
Ø koordinasi antara otak dengan anggota tubuh.
Ø Haruslah terdapat keseimbangan antara apa yang dipikirkan di
Ø Otak dan apa yang sanggup dilakukan oleh tubuh.
Ø Keseimbangan antara emosi dan kemampuan diri.
Ø Ketenangan dalam melakukan tindakan .
Ø koordinasi antar anggota tubuh.
Ialah keseimbangan dan irama anggota
tubuh itu sendiri dalam membuat gerakan-gerakan atau langkah- langkah
ketika berjalan atau diam
4. kondisi fisik yang memadai.
Ini dapat dimengerti karena mendaki
gunung termasuk dalam olahraga yang cukup berat . Seringkali berhasil
tidaknya suatu pendakian / pemanjatan bergantung pada kekuatan fisik.
Untuk mempunyai kondisi fisik yang baik dan selalu siap maka jalan
satu-satunya haruslah berlatih.
5. Berdoa
Penyeberangan Basah
Ada beberapa teknik/tips dalam melakukan penyeberangan disungai :
- Carilah Jembatan
- Jika jembatan tidak ada jangan berharap ada yang mau buatkan jadi carilah daerah aliran sungai tak beriak, deras dan dalam biasanya semakin ke hulu aliran sungai seperti itu ada
- Jika kalian menyeberangi sungai dan ada tali, ada yang tau berenang ada juga tidak maka itu yang tau berenang menyeberang kesebelah dengan diikat tali lalu tali tali itu di tambatkan sudah itu nyebrang mako
- Pada saat menyeberang sungai kalian bisa membawa tongkat untuk menjaga keseimbangan dan juga berguna untuk mengukur kedalaman air
Ingatlah jika menyeberang sungai jangan
pernah membelakangi arah arus air hadapilah walau itu deras karena
kalian akan jauh lebih kokoh dan lintasan jalur yang kalian lalui ada
baiknya diagonal begitupun jika kalian menyeberang secara tim
Selamat Mendaki !!!!!
1. Hill Walking/Hiking Penggiat Alam Bebas Perlu Miliki Beberapa Kemampuan
asa liburan biasanya digunakan oleh
banyak anggota pencinta alam untuk mendaki gunung. Namun beberapa kali
kita melihat atau mendengar musibah yang dialami para pendaki gunung.
Banyak musibah menimpa para pendaki di gunung tertentu akibat hilang
atau tersesat hingga menimbulkan kematian. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Mendaki gunung sebagai kegiatan di alam
bebas perlu disadari betul sebagai kegiatan yang berisiko tinggi. Sebab
terjadi perubahan penyesuaian diri terhadap lingkungan yang kita
datangi. Dari kehidupan di perkotaan yang nyaman dan aman dengan segala
fasilitasnya, menuju lingkungan dengan kondisi yang ekstrem. Biasanya
kita bermukim di rumah yang nyaman dan sejuk, terhindar dari panasnya
matahari, dinginnya malam dan hujan serta tidur di ranjang yang empuk
dengan selimut yang menghangatkan. Belum lagi dengan makanan dan minuman
yang cepat tersedia dari para pembantu di rumah maupun di tempat
jajanan.
Semua itu akan berubah drastis jika kita
mendaki gunung. Perbekalan selama mendaki kita bawa dalam ransel yang
berat termasuk peralatan dan perlengkapan lainnnya. Tenda untuk berteduh
harus didirikan untuk menghindari dinginnya suhu di ketinggian serta
angin dan hujan yang sewaktu-waktu datang dengan tiba-tiba. Makanan dan
minuman juga harus diolah terlebih dahulu sebelum kita menikmatinya.
Belum lagi dengan kondisi lingkungan dalam perjalanan. Hutan yang lebat
serta jalan yang menanjak dan tak jarang kita harus melewati pinggiran
tebing dengan jurang yang dalam. Dengan situasi seperti itu jelas
diperlukan persiapan dan perencanaan yang matang sebelum kita mendaki
gunung dengan nyaman.
Seorang pakar pendidikan alam terbuka,
Collin Mortlock, mengatakan bahwa para penggiat alam bebas harus
memiliki beberapa kemampuan dalam berkegiatan. Kemampuan itu adalah
kemampuan teknis yang yang berhubungan dengan ritme dan keseimbangan
gerakan serta efisiensi penggunaan perlengkapan. Sebagai contoh, pendaki
harus memahami ritme berjalan saat melakukan pendakian, menjaga
keseimbangan pada medan yang curan dan terjal sambil
membawa beban yang berat serta memahami
kelebihan dan kekurangan dari perlengkapan dan peralatan yang dibawa
serta paham cara penggunaannya.
Lalu, kemampuan kebugaran yang mencakup
kebugaran spesifik yang dibutuhkan untuk kegiatan tertentu, kebugaran
jantung dan sirkulasinya, serta kemampuan pengkondisian tubuh terhadap
tekanan lingkungan alam. Berikutnya, kemampuan kemanusiawian. Ini
menyangkut pengembangan sikap positif ke segala aspek untuk
meningkatkan kemampuan. Hal ini mencakup determinasi/kemauan, percaya
diri, kesabaran, konsentrasi, analisis diri, kemandirian, serta
kemampuan untuk memimpin dan dipimpin.
Seorang pendaki seharusnya dapat memahami
keadaan dirinya secara fisik dan mental sehingga ia dapat melakukan
kontrol diri selama melakukan pendakian, apalagi jika dilakukan dalam
suatu kelompok, ia harus dapat menempatkan diri sebagai anggota kelompok
dan bekerja sama dalam satu tim.
Tak kalah penting adalah kemampuan pemahaman lingkungan. Pengembangan
kewaspadaan terhadap bahaya dari lingkungan spesifik. Wawasan terhadap
iklim dan medan kegiatan harus dimiliki seorang pendaki. Ia harus
memahami pengaruh kondisi lingkungan terhadap dirinya dan pengaruh
dirinya terhadap kondisi lingkungan yang ia datangi.
Keempat aspek kemampuan tersebut harus
dimiliki seorang pendaki sebelum ia melakukan pendakian. Sebab yang akan
dihadapi adalah tidak hanya sebuah pengalaman yang menantang dengan
keindahan alam yang dilihatnya dari dekat, tetapi juga sebuah risiko
yang amat tinggi, sebuah bahaya yang dapat mengancam keselamatannya.
IGN FERRY IRAWAN
sumber: Suara PembaruanPERLENGKAPAN PRIBADI
1. Sepatu, ada beberapa tipe sepatu yang dirancang khusus untuk berbagai jenis perjalanan. Sepatu yang baik adalah yang dapat memberikan perlindungan bagi kaki dan cocok untuk jenis perjalanan.
2. Pakaian, harus dapat melindungi si pemakai dari gangguan medan dan
cuaca. Meliputi pakaian untuk kepala, badan, tangan dan kaki.sumber: Suara PembaruanPERLENGKAPAN PRIBADI
1. Sepatu, ada beberapa tipe sepatu yang dirancang khusus untuk berbagai jenis perjalanan. Sepatu yang baik adalah yang dapat memberikan perlindungan bagi kaki dan cocok untuk jenis perjalanan.
3. Perlengkapan tambahan, meliputi bekal makanan / minuman, senter, pisau, perlengkapan menginap / tidur, dll.
PERLENGKAPAN TEKNIK
1. Tali (Rope)
Tali yang dipergunakan dalam pendakian / pemanjatan tebing (climbing rope) bersifat fleksible, elastis dan tahan terhadap beban yang berat. Diameter tali berkisar antara 11, 10 dan 9 mm. Kemampuan menahan beban berkisar antara 1.360 s/d 2.720 kg. Yang biasa digunakan ada dua jenis yaitu : Hawser laid dan Kernmantel.
2. Helmet / Crash Hat
Berfungsi sebagai pelindung kepala terhadap benturan benda keras.
3. Harness
Tali tubuh yang berfungsi sebagai sabuk pengaman.
4. Carabineer
Carabineer adalah cincin kait yang berbentuk oval atau D dan mempunyai gate / pintu, terbuat dari allumunium alloy dan mempunyai kekuatan antara 1.500 – 3.500 kg. Carabineer ini ada dua jenis, yaitu : screw gate (berkunci) dan snape gate (tidak berkunci).
5. SlingCarabineer adalah cincin kait yang berbentuk oval atau D dan mempunyai gate / pintu, terbuat dari allumunium alloy dan mempunyai kekuatan antara 1.500 – 3.500 kg. Carabineer ini ada dua jenis, yaitu : screw gate (berkunci) dan snape gate (tidak berkunci).
Sling terbuat dari webbing tubular. Panjang sekitar 1,5 m dengan lebar 2,5 cm dibentuk menjadi sebuah loop (lingkaran) yang dihubungkan dengan simpul pita.
PERENCANAAN PERLENGKAPAN PERJALANAN :
Keberhasilan suatu kegiatan di alam terbuka juga ditentukan oleh perencanaan dan perbekalan yang tepat. Dalam merencanakan perlengkapan perjalanan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah :
1. Mengenal jenis medan yang akan dihadapi (hutan, rawa, tebing, dll)
2. Menentukan tujuan perjalanan (penjelajahan, latihan, penelitian, SAR,
3. Mengetahui lamanya perjalanan (misalnya 3 hari, seminggu, sebulan,
4. Mengetahui keterbatasan kemampuan fisik untuk membawa beban
5. Memperhatikan hal-hal khusus (misalnya : obat-obatan tertentu)
Setelah mengetahui hal-hal tersebut, maka kita dapat menyiapkan
perlengkapan dan perbekalan yang sesuai dan selengkap mungkin, tetapi
beratnya tidak melebihi sepertiga berat badan (sekitar 15-20 kg),
walaupun ada yang mempunyai kemampuan mengangkat beban sampai 30 kg.Keberhasilan suatu kegiatan di alam terbuka juga ditentukan oleh perencanaan dan perbekalan yang tepat. Dalam merencanakan perlengkapan perjalanan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah :
1. Mengenal jenis medan yang akan dihadapi (hutan, rawa, tebing, dll)
2. Menentukan tujuan perjalanan (penjelajahan, latihan, penelitian, SAR,
3. Mengetahui lamanya perjalanan (misalnya 3 hari, seminggu, sebulan,
4. Mengetahui keterbatasan kemampuan fisik untuk membawa beban
5. Memperhatikan hal-hal khusus (misalnya : obat-obatan tertentu)
Dari kegiatan penjelajahan, ada beberapa jenis perjalanan yang disesuaikan dengan medannya, yaitu :
1. Perjalanan pendakian gunung
2. Perjalanan menempuh rimba
3. Perjalanan penyusuran sungai, pantai dan rawa
4. Perjalanan penelusuran gua
5. Perjalanan pelayaran
Untuk perjalanan ilmiah dan kemanusiaan, bisa pula dikelompokkan berdasarkan jenis medan yang dihadapi. Dari setiap kegiatan tersebut, kita dapat mengelompokkan perlengkapannya sebagai berikut :
1. Perlengkapan dasar, meliputi :
o Perlengkapan dalam perjalanan / pergerakkan
o Perlengkapan untuk istirahat
o Perlengkapan makan dan minum
o Perlengkapan mandi
o Perlengkapan pribadi
o Perlengkapan penelitian (kamera, buku, dll)
o Perlengkapan penyusuran sungai (perahu, dayung, pelampung, dll)
o Perlengkapan pendakian tebing batu (carabineer, tali, chock, dll)
o Perlengkapan penelusuran gua (helm, headlamp/senter, harness, sepatu karet, dll)
3. Perlengkapan tambahan
Perlengkapan ini dapat dibawa atau tergantung evaluasi yang dilakukan (misalnya : semir, kelambu, gaiter, dll).
Mengingat pentingnya penyusunan perlengkapan dalam suatu perjalanan, maka sebelum memulai kegiatan, sebaiknya dibuatkan check-list terlebih dahulu. Perlengkapan dikelompokkan menurut jenisnya, lalu periksa lagi mana yang perlu dibawa dan tidak.
Apabila perjalanan kita lakukan dengan berkelompok, maka check-list nya untuk perlengkapan regu dan pribadi. Dalam perjalanan besar dan memerlukan waktu yang lama, kita perlu menentukan perlengkapan dan perbekalan mana saja yang dibawa dari rumah atau titik keberangktan, dan perlengkapan atau perbekalan mana saja yang bisa dibeli di lokasi terdekat dengan tujuan perjalanan kita.
(Sumber : Buku Panduan Pedoman Mendaki Gunung & Penjelajahan Rimba/EAT&E – EAST 2003
Mendaki gunung adalah suatu olah raga
keras, penuh petualangan dan membutuhkan keterampilan, kecerdasan,
kekuatan serta daya juang yang tinggi. Bahaya dan tantangan merupakan
daya tarik dari kegiatan ini. Pada hakekatnya bahaya dan tantangan
tersebut adalah untuk menguji kemampuan diri dan untuk bisa menyatu
dengan alam. Keberhasilan suatu pendakian yang sukar, berarti keunggulan
terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan melawan diri
sendiri.
Di Indonesia, kegiatan mendaki gunung mulai dikenal sejak tahun 1964
ketika pendaki Indonesia dan Jepang melakukan suatu ekspedisi gabungan
dan berhasil mencapai puncak Soekarno di pegunungan Jayawijaya, Irian
Jaya (sekarang Papua). Mereka adalah Soedarto dan Soegirin dari
Indonesia, serta Fred Atabe dari Jepang. Pada tahun yang sama,
perkumpulan-perkumpulan pendaki gunung mulai lahir, dimulai dengan
berdirinya perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung WANADRI di
Bandung dan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) di
Jakarta, diikuti kemudian oleh perkumpulan-perkumpulan lainnya di
berbagai kota di Indonesia.JENIS PERJALANAN / PENDAKIAN
Mountaineering dalam arti luas adalah suatu perjalanan, mulai dari hill walking sampai dengan ekspedisi pendakian ke puncak-puncak yang tinggi dan sulit dengan memakan waktu yang lama, bahkan sampai berbulan-bulan.
Menurut kegiatan dan jenis medan yang dihadapi, mountaineering terbagi menjadi tiga bagian :
1. Hill Walking / Fell Walking
Perjalanan mendaki bukit-bukit yang relatif landai dan yang tidak atau belum membutuhkan peralatan-peralatan khusus yang bersifat teknis.
2. Scrambling
Pendakian pada tebing-tebing batu yang tidak begitu terjal atau relatif landai, kadang-kadang menggunakan tangan untuk keseimbangan. Bagi pemula biasanya dipasang tali untuk pengaman jalur di lintasan.
3. ClimbingPendakian pada tebing-tebing batu yang tidak begitu terjal atau relatif landai, kadang-kadang menggunakan tangan untuk keseimbangan. Bagi pemula biasanya dipasang tali untuk pengaman jalur di lintasan.
Kegiatan pendakian yang membutuhkan penguasaan teknik khusus. Peralatan teknis diperlukan sebagai pengaman. Climbing umumnya tidak memakan waktu lebih dari satu hari.
Bentuk kegiatan climbing ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu :
a. Rock Climbing
Pendakian pada tebing-tebing batu yang membutuhkan teknik pemanjatan dengan menggunakan peralatan khusus.
b. Snow & Ice climbing
Pendakian pada es dan salju.
4. Mountaineering
Merupakan gabungan dari semua bentuk pendakian di atas. Waktunya bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Disamping harus menguasai teknik pendakian dan pengetahuan tentang peralatan pendakian, juga harus menguasai manajemen perjalanan, pengaturan makanan, komunikasi, strategi pendakian, dll.
KLASIFIKASI PENDAKIAN
Tingkat kesulitan yang dimiliki setiap orang berbeda-beda, tergantung dari pengembangan teknik-teknik terbaru. Mereka yang sering berlatih akan memiliki tingkat kesulitan / grade yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang baru berlatih.
Klasifikasi pendakian berdasarkan tingkat kesulitan medan yang dihadapi (berdasarkan Sierra Club) :
Kelas 1 : berjalan tegak, tidak diperlukan perlengkapan kaki khusus (walking).
Kelas 2 : medan agak sulit, sehingga perlengkapan kaki yang memadai dan penggunaan tangan sebagai pembantu keseimbangan sangat dibutuhkan (scrambling).
Kelas 3 : medan semakin sulit, sehingga dibutuhkan teknik pendakian tertentu, tetapi tali pengaman belum diperlukan (climbing).
Kelas 4 : kesulitan bertambah, dibutuhkan tali pengaman dan piton untuk anchor/penambat (exposed climbing).
Kelas 5 : rute yang dilalui sulit, namun peralatan (tali, sling, piton dll), masih berfungsi sebagai alat pengaman (difficult free climbing).
Kelas 6 : tebing tidak lagi memberikan pegangan, celah rongga atau gaya geser yang diperlukan untuk memanjat. Pendakian sepenuhnya bergantung pada peralatan (aid climbing).
SISTEM PENDAKIAN
1. Himalayan System, adalah sistem pendakian yang digunakan untuk perjalanan pendakian panjang, memakan waktu berminggu-minggu. Sistem ini berkembang pada pendakian ke puncak-puncak di pegunungan Himalaya. Kerjasama kelompok dalam sistem ini terbagi dalam beberapa tempat peristirahatan (misalnya : base camp, flying camp, dll). Walaupun hanya satu anggota tim yang berhasil mencapai puncak, sedangkan anggota tim lainnya hanya sampai di tengah perjalanan, pendakian ini bisa dikatakan berhasil.
2. Alpine System, adalah sistem pendakian yang berkembang di pegunungan Alpen. Tujuannya agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. Sistem ini lebih cepat, karena pendaki tidak perlu kembali ke base camp, perjalanan dilakukan secara bersama-sama dengan cara terus naik dan membuka flying camp sampai ke puncak.
PERSIAPAN BAGI SEORANG PENDAKI GUNUNG
Untuk menjadi seorang pendaki gunung yang baik diperlukan beberapa persyaratan antara lain :
1. Sifat mental.
Seorang pendaki gunung harus tabah dalam menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan di alam terbuka. Tidak mudah putus asa dan berani, dalam arti kata sanggup menghadapi tantangan dan mengatasinya secara bijaksana dan juga berani mengakui keterbatasan kemampuan yang dimiliki.
2. Pengetahuan dan keterampilan
Meliputi pengetahuan tentang medan, cuaca, teknik-teknik pendakian pengetahuan tentang alat pendakian dan sebagainya.
3. Kondisi fisik yang memadai
Mendaki gunung termasuk olah raga yang berat, sehingga memerlukan kondisi fisik yang baik. Berhasil tidaknya suatu pendakian tergantung pada kekuatan fisik. Untuk itu agar kondisi fisik tetap baik dan siap, kita harus selalu berlatih.
4. Etika
Harus kita sadari sepenuhnya bahwa seorang pendaki gunung adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku yang harus kita pegang dengan teguh. Mendaki gunung tanpa memikirkan keselamatan diri bukanlah sikap yang terpuji, selain itu kita juga harus menghargai sikap dan pendapat masyarakat tentang kegiatan mendaki gunung yang selama ini kita lakukan.
(Sumber : Buku Panduan Pedoman Mendaki Gunung & Penjelajahan Rimba/EAT&E – EAST 200
Hill walking atau yang lebih dikenal
sebagai hiking adalah sebuah kegiatan mendaki daerah perbukitan atau
menjelajah kawasan bukit yang biasanya tidak terlalu tinggi dengan
derajat kemiringan rata-rata di bawah 45 derajat. Dalam hiking tidak
dibutuhkan alat bantu khusus, hanya mengandalkan kedua kaki sebagai
media utamanya. Tangan digunakan sesekali untuk memegang tongkat jelajah
(di kepramukaan dikenal dengan nama stock atau tongkat pandu) sebagai
alat bantu. Jadi hiking ini lebih simpel dan mudah untuk dilakukan
2..scrambling.
Dalam pelaksanaannya, scrambling
merupakan kegiatan mendaki gunung ke wilayah-wilayah dataran tinggi
pegunungan (yang lebih tinggi dari bukit) yang kemiringannya lebih
ekstrim (kira-kira di atas 45 derajat). Kalau dalam hiking kaki sebagai
‘alat’ utama maka untuk scrambling selain kaki, tangan sangat dibutuhkan
sebagai penyeimbang atau membantu gerakan mendaki. Karena derajat
kemiringan dataran yang lumayan ekstrim, keseimbangan pendaki perlu
dijaga dengan gerakan tangan yang mencari pegangan. Dalam scrambling,
tali sebagai alat bantu mulai dibutuhkan untuk menjamin pergerakan naik
dan keseimbangan tubuh.
Berbeda dengan hiking dan scrambling, level mountaineering yang
paling ekstrim adalah climbing! Climbing mutlak memerlukan alat bantu
khusus seperti karabiner, tali panjat, harness, figure of eight, sling,
dan sederetan peralatan mountaineering lainnya. Kebutuhan alat bantu itu
memang sesuai dengan medan jelajah climbing yang sangat ekstrim.
Bayangkan saja, kegiatan climbing ini menggunakan wahana tebing batu
yang kemiringannya lebih dari 80 derajat! Ouhhh…
Nah, tentu saja mountaineering ini cukup
menantang untuk digeluti… selain wahana kegiatannya yang berada di
daerah ketinggian pegunungan yang diwarnai dengan tebing lembah, ngarai,
ceruk, sungai, dan panorama tiada tara, untuk melakoni mountaineering
ini tentu saja dibutuhkan kesiapan fisik yang mantap
Secara garis besarnya untuk melakoni
mountaineering pastikan tubuh kalian dalam kondisi sehat, fit, dan
stamina oke. Untuk itu olahraga teratur sangat mutlak. Selain itu, kau
harus bebas dari semua phobia akan hal-hal yang berkaitan dengan
tempat-tempat tinggi dan punya kesiapan rencana yang mantap!
Peralatan dasar kegiatan alam bebas seperti :
ransel, vedples (botol air), sepatu
gunung, pakaian gunung, tenda, misting (rantang masak outdoor), kompor
lapangan, topi rimba, peta, kompas, altimeter, pisau, korek, senter,
alat tulis, dan matras mutlak dibutuhkan selain alat bantu khusus
mountaineering seperti tali houserlite/kernmantel, karabiner, figure of
eight, sling, prusik, bolt, webbing, harness, dan alat bantu khusus
lainnya yang dibutuhkan sesuai level kegiatannya.
2. Climbing
Climbing adalah olah raga panjat yang dilakukan di tempat yang curam atau tebing. Tebing atau jurang
adalah formasi bebatuan yang menjulang secara vertikal. Tebing
terbentuk akibat dari erosi. Tebing umumnya ditemukan di daerah pantai,
pegunungan dan sepanjang sungai. Tebing umumnya dibentuk oleh bebatuan
yang yang tahan terhadap proses erosi dan cuaca.
Di dalam arti yang sebenarnya memang
climbing itu panjat tebing. Tetapi banyak pula orang mengartikan bukan
hanya panjat saja dalam kegiatan climbing ini melainkan juga Repling (turun tebing), Pursiking (naik tebing dengan menggunakan tali pursik) dan lain-lain.
Biasanya orang melakukan pemanjatan
tebing ini dilakukan dengan konsentrasi yang tinggi, kekuatan tangan,
kekuatan kaki, keseimbangan tubuh dijadikan tolak ukur dalam melakukan
pemanjatan ini. Panjat tebing bukan hanya di alam tetapi kita bisa di
tebing buatan (woll-climbing).
Dalam divisi climbing ini sangatlah
mengharapkan peran lembaga STTA dalam melancarkan kegiatannya, yaitu
adanya pembuatan woll-climbing. Didalam pembuatan wool-climbing memang
memerlukan dana yang cukup besar. Maka dari itu Palastta mengharapkan
kerjasama dari pihak manapun untuk dapat bekerja sama dalam pembuatan
wool-climbing ini.
3. Rock Climbing
Rock Climbing adalah olah raga fisik dan
mental yang mana selalu membutuhkan kekuatan, keseimbangan, kecepatan,
ledakan-ledakan tenaga yang didukung dengan kemampuan mental para
pelakunya. Ini adalah kegiatan yang sangat berbahaya dan dibutuhkan
pengetahuan dan latihan. Olah raga ini juga menggunakan alat-alat panjat
yang sangat krusial dan rawan, tetapi dengan teknik dan pengetahuan
yang benar, olah raga ini sangat aman untuk dilakukan.
Ice and Snow Climbing
Ice and Snow Climbing adalah olah raga
fisik dan mental yang mana selalu membutuhkan kekuatan, keseimbangan,
kecepatan, ledakan-ledakan tenaga yang didukung dengan kemampuan mental
para pelakunya. Ini adalah kegiatan yang sangat berbahaya dan dibutuhkan
pengetahuan dan latihan. Olah raga ini juga menggunakan alat-alat
panjat yang sangat krusial dan rawan, tetapi dengan teknik dan
pengetahuan yang benar, olah raga ini sangat aman untuk dilakukan.
Seorang awam (tidak memiliki cukup
penagalaman di hutan dan gunung) mungkin segera akan menilai bahwa
bahaya dihutan adalah sbb :
`Hutan dan gunung adalah wilayah berkeliarannya binatang-binatang
buas pemangsa yang setiap detik siap memangsa manusia yang memasuki
wilayahnya. Tumbuh-tumbuhan yang lebat saling berbelit dan rimbunnya
dedaunan akan menghambat sinar matahari dan menimbulkan kegelapan yang
segera akan menyesatkan arah perjalanan kita. Legenda tentang batang
kayu besar yang tumbang serta dipenuhi lumut dan ketika seseorang
menancapkan lumut atasnya segera menyemburlah darah. Dan batang kayu itu
menggeliat; ternyata batang kayu itu adalah tubuh seekor ular yang
sangat besar yang segera akan marah dan menelan manusia yang
menyakitinya. Bayang-bayangan sejenis itu adalah wajar dimiliki oleh
seorang awam. Sebagian ada benarnya tapi sebagian lagi adalah hal-hal
yang sangat dilebih-lebihkan’
Tetapi bagi orang yang telah
berpuluh-puluh kali mengalami perjalanan di hutan dan gunung ternyata
sebahagian besar belum pernah bertemu dengan binatang buas seperti yang
ditakautkan (walau mengkin sesungguhnya salah seorang dari mereka pernah
bertemu, tetapi binatangnya buas itu segera menghindar karena mendengar
suara manusia sehingga tak terlihat). Penagalaman2 yang lebih pasti
dialaminya adalah mereka pasti selalu bertemu debgan nyamuk-nyamuk yang
berusaha menghisap darahnya. Seandainya salah seekor nyamuk yang
menggigitnya berpotensi menularkan malaria, demam berdarah ataupun
penyakit kaki gajah, tentu saja hal ini sudah merupakan potensi bahaya
yang dapat berakibat sama fatalnya dengan serangan binatang buas. Hujan,
angin, dan udara dingin adalah contoh lain dari hambatan-hambatan yang
paling sering ditemui, dimana bila menjadi extreme dapat menjadi bahaya
atau potensi bahaya yang tidak kalah fatalnya. Banyak lagi hal-hal lain
yang karena mungkin belum pernah dialami atau terlihat dapat menjadi
potensi bahaya, menjadi terabaikan. Atau mungkin juga sesuatau hal yang
dilingkungan kehidupan normal dapat dianggap hal yang biasa terjadi
dikarenakan fasilitas-fasilitas pendukung yang memadai, tidak disadri
dapat merupakan bahaya atau berpotensi menjadi bahaya fatal dalam
perjalanan di hutan dan gunung : misalnya luka-luka kecil yang bisa
terkena infeksi bila tidak terawat dengan baik.
Tentu saja membahas bentuk-bentuk bahaya
yang mungkin dihadapi di hutan fdan gunung dengan cara diatas akan
menjadi bertele-tele, berbelit dan sangat tidak sistematis. Untuk itu
marilah kita mencoba membahas secara lebih sistematis bahaya-bahaya yang
mungjkin kita hadapi di hutan dan gunung.
Pengelompokan Bahaya di Hutan dan Gunung
Bila kita kelompokan bahaya di hutan dan gunung dapat kita simpulkan sebagai berikut :
1. Bahaya Obyektif : Segala bentuk bahaya
atau potensi bahaya yang ditimbulkan oleh objek hutan dan gunung itu
sendiri dan segala sesuatu yang berada dilingkungannya
2. Bahaya Subyektif : Segala bentuk
bahaya dan atau potensi bahaya yang diawali atau ditimbulkan oleh pelaku
dalam segala bentuk perilaku, tindakan dan pengambilan keputusan baik
sebelum ataupun saat ia berkegiatan di hutan dan gunung.
3. Nasib Buruk dan Nasib Baik : segala
bentuk bahaya dan atau potensi bahaya yang pada dasarnya diluar
perhitungan ataupun pertimbangan pelakunya, dan bersifat sama sekali
tidak terduga. Umumnya sangat jarang terjadi. Nasib Buruk akan langsung
dirasakan oleh pelaku sebagai potensi bahaya ataupun bahaya. Nasib Baik
bila tidak secara bijak diterima sebagai sebentuk pengalaman tentang
keberuntungan, dapat menjadi sebentuk sikap berfikir yang dapat menjadi
potensi dan atau bahaya disaat mendatang.
Kelompok-kelompok Bahaya di Hutan dan Gunung.
1. Bahaya Objectifa) Kondisi Bentuk Permukaan Bumi (Terrain); Apakah Terrain berpemukaan: datar, curam, patahan-patahan, tonjolan-tonjolan dan gabungan dari beberapa bentuk. Masing-massing memiliki bahaya sendiri-sendiri. Apakah kondisi permukaan itu terbentuk oleh tanah padat, gembur, berair, becek, rawa, sungai, pasir, kerikil bulat, krikil tajam, batuan lepas, batuan padat dan serterusnya. Masing- masing juga memeiliki sifat-sifat tersendiri yang tentunya memeiliki potensi-potensi bahaya.
b) Bentuk-bentuk Kehidupan (living Form);
• Kehidupan Binatang: Mulai kehidupan Micro organisme yang sederhana hingga binatang-binatang besar dapat menjadi potensi bahaya. Secara umum potensi itu adalah :
- Dapat menimbulkan penyakit.
- Dapat menularkan penyakit.
- Beracun bila menyengat, bersentuhan atau menggigit.
- Beracun bila dimakan.
- Karena ukurannya besar dapat berbahaya bila menyerang.
- Binatang besar pemangsa.
- Minimbulkan/mengeluarkan zat-zat kimia yang membuat sangat tidak nyaman.
• Tumbuh-tumbuhan
Potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh tumbuhan adalah : ‘
- Kerapatan tumbuhan dapat menghambat dan mencederai kita dalam pergerakan.
- Kerapatan tumbuhan dapat menghambat jarak dan keleluasaan pandangan (visibility) sehingga menyulitkan orientasi.
- Mempunyai duri-duri atau getah beracun yang dapat mencederai kita.
- Mengandung racun bila dimakan.
- Mengandung racun bila dimakan.
Tetapi harus dicatat, dalam situasi
survival ada tidaknya binatang dan tumbuhan yang dapat kita manfaatkan
juga merupakan problem bagi kita untuk sumber makakan, shelter, bahan
bakar, perlengkapan pengganti dll.
c) Iklim dan Cuaca
Iklim yang merupakan gambaran umum
musim-musim yang terjadi disuatu daerah tertentu dalam periode waktu
satu tahun mungkin lebih mudah doiperkirakan. Tetapi cuaca yang
berkaitan dengan: temperatur, kelembaban dan pergeerakan udara akan
lebih sulit diperkirakan. Ketiga hal itu sangat berkaitan dengan
kemampuan tubuh kita yang mempunyai keterbatasan untuk dapat berfungsi
normal. Hal-hal yang dapat menjadi potensi bahaya dari kondisi cuaca
adalah :
• Temprertur Tinggi, yang berkaitan debngan terik matahari dapat menyebabkan Heatstroke dan Sunstroke.
• Temperature rendah, basah, angin, dan kombinasinya dapat menyebabkan Hypotermia.
• Basah terus-menerus dapat menyebabkan bagian telapak kaki mengalami Water immersion foot (seperti kena kutu air). Akan mudah lecet dan peluang terinfeksi menjadi lebih besar.
• Basah terus-menerus dapat menyebabkan bagian telapak kaki mengalami Water immersion foot (seperti kena kutu air). Akan mudah lecet dan peluang terinfeksi menjadi lebih besar.
• Potensi-potensi bahaya lain yang
diakibatkan oleh cuaca misal: angin yang sangat besar dapat mematahkan
batang2 pohon besar yang bisa mencederai kita, curah hujan yang tinggi
dapat menghambat pergerakan dan jarak pandang. Curah hujan yang sangat
extreme mempunyai potensi bahaya tersendiri. Demikian juga kekeringan
yang extreme
d) Ketinggian
Tinggi rendahnya suatu tempat dari atas
permukaan laut, akan berkaitan dengan besarnya tekanan udara di tempat
itu. Disekitar ketinggian sejajar dengan permukaan laut tekanan udara
besarnya kurang lebih 1 Atmosfir (atm), pada 500 Meter Diatas Permukaan
Laut (mdpl) tekanan udaranya hanya kurang lebih 50%nya. Besarnya tekanan
disebabkan massa udara yang lebih besar. Dengan kata lain materi yang
membentuk udara lebih banyak. Makin kecil tekanannya, makin sedikit
materi yang membentuknya. Oksigen yang kita butuhkan ada kurang lebih
20% dari materi yang membentuk udara. Dengan demikian makin tinggi suatu
tempat dari permukaan laut makin sedikit jumlah oksigen dari setiap
liter yang terhisap paru-paru kita. Tubuh kita membutuhkan waktu untuk
beraklimatisasi dengan kondisi ini. Kurangnya waktu aklimatisasi dapat
menimbulkan gangguan pada kesehatan tubuh kita, yaitu apa yang disebut
Mountain Sickness, yang bila berlanjut dari kondisi Hypoxia dapat
berkembang menjadi Pulmonaryedema dan atau Cerebraledema. Bahkan diatas
ketinggian yang berkisar mulai diatas 5000 mdpl, tubuh kita tidak mampu
beraklimatisasi secara permanaen. Hanya dalam batasan waktu tertentu
tubuh kita dapat bertahan. Daerah diatas ketinggian itu sering juga
disebut “Death Zone” dimana tidak ada makhluk hidup yang dapat
beraklimatisasi permanent disana. (Can u follow it…?)
e) Besaran Jarak dan Waktu
Besarnya jarak biasanya berkaitan dengan
lamanya waktu tempuh, walau tingkat kesulitan medan (berkaitan
dengankondisi Terrain, Living Form, Iklim dan cuaca, ketinggian) ikut
berpengaruh. Secara sederhana dapat dilihat bahwa makin besar jarak dan
waktu makin rumit rencana perjalan yang harus kita buat. Banyak masalah-
masalah yang harus kita pertimbangkan seperti misalnya : masalah
perbekalan, navigasi, kesehatan, shelter, peralatan, tekanan-
tekanan/stress (fisik dan psikis) yang mungkin dialami dst. Makin rumit
rencana perjalanan yang harus kita pertimbangkan, ada kemungkinan makin
besar faktor-faktor kesalahan yang terjadi. Faktor- faktor kesalahan
yang ini dapat berkembang pada pelaksanaanya menjadi potensi bahaya.
f) Kondisi Akibat/Pengaruh
Yang dimaksud dengan kondisi akibat atau
pengaruh adalah suatu kondisi yang pada umumnya/biasanya tidak merupakan
potensi bahaya, tetapi akibat pengaruh tertentu menjadikannya sebagai
potensi atau bahaya. Beberapa contoh misalnya :
- Adanya bangkai binatang besar diatas
aliran sungai yang sangat jernih dihutan atau digunung yang kita gunakan
sebagai sumber air.
- Adanya ganggang beracun pada genangan air tetrentu yang kita anggap sebagai sumber air yang baik.
- Adanya ganggang beracun pada genangan air tetrentu yang kita anggap sebagai sumber air yang baik.
- Munculnya gas beracun di wilayah gunung
berapi dimana biasanya wilayah tersebut aman. Hal ini mungkin akibat
aktivitas gunung berapi beraktivitas diluar normalnya.
- Jenis-jenis ikan tertentu yang biasanya
tidak beracun menjadi ikan beracun bila dikonsumsi akibat adanya
kandungan mineral tertentu atau micro organisme tertentu diperairan
habitatnya.
- Dan contoh lainnya.
g) Kondisi Sosial Budaya
“Lain padang lain belalangnya, lain lubuk
lain pula ikannya”, demikian kata peribahasa. Setiap daerah memang
memiliki adat-istiadat tersendiri. Kesalahan kita dalam menghargai adat
istiadat setempat dapat menimbulkan kesalahpahaman. Rasa tidak suka,
penolakan terhadap kehadiran kita akan menimbulkan ketidaknyamanan dan
atau rasa tidak aman pada diri kita. Hal ini bila berlanjut dapat
menjadi potensi bahaya yang tidak jarang pula menjadi bahaya. Tidak
jarang pula masyarakat pedalaman yang akan merasa tidak aman bila
wilayahnya dimasuki orang asing. Bagi kita sikap mereka sering kita
anggap agresif, yang sesungguhnya itu adalah manifestasi dari rasa tidak
aman itu. Pendekatan yang cermat perlu kita lakukan agar situasi itu
tidak menjadi potensi bahaya.
2. Bahaya Subjektif
a. Kondisi Kebugaran (fitness)
Subject : Berkegiatan di alam terbuka
dalam tingkatan tertentu menuntut kebugaran tubuh pelakunya. Tidak saja
sitem peredaran darahnya (cardios culary), metabolisme tubuh, kekuatan
otot-ototnya, tetapi juga daya pertahanan tubuhnya terhadap
perubahan-perubahan cuaca (berkaitan dengan temperatur, kebasahan
angin). Sering juga berkegiatan di gunung dan hutan mengharuskan kita
melakukan irama dan siklus kehidupan yang tidak teratur. Atau setidaknya
tidak sebagaimana pada kehidupan kita sehari-hari. Situasi dan kondisi
ini dapat menjadi potensi bahaya apabila kebugaran tubuh pelaku tidak
dapat memenuhi sebagaimana yang dituntut kegiatan itu.
b. Kondisi Kemampuan Tekhnis (Technical Skills)
Subyek : Sebentuk pengetahuan dan
keterampilan tekhnis tentu saja dituntut dalam berkegiatan di gunung dan
hutan. Keterampilan untuk dapat bergerak dengan efisien serta efektif,
mengontrol keseimbangan dan irama gerak tubuh serta beristirahat secara
efektif tapi efisien. Hal ini juga harus ditunjang dengan pengetahuah
apa saja, peralatan pembantu yang dibutuhkan secara tepat, serta
penggunaanya secara benar untuk membantunya bergerak atau beristirahat.
Pengetahuan dan keterampilan menjaga kesehatan, kebugaran tubuh dan
bagaimana mengatasi bila tergangu juga dituntut. Tidak mendukungnya
kemampuan tekhnis pelaku, akan menjadi sebentuk potensi bahaya.
c. Kondisi Kemampuan Kemanusiaan (Human Skills)
Sebentuk kondisi kemampuan kemanusiaan juga dituntut dalam berkegiatan di alam bebas. Apa yang sering kita dengar sebagai mental yang kuat dan emosi yang stabil itu yang dituntut. Tetapi uraian dari mental yang kuat itu sendiri jarang kita dengar. Pengertian mental itu sendiri adalah bagaimana “sikap berfikir kita dalam mengontrol aksi gerak tubuh/tindakan kita”. Dengan kata lain bagaimana kita terhadap sebentuk situasi dan kondisi: Menilai, Menganalisa, Merasionalisasikannya, Mengambil/Menentukan keputusan, serta Melaksanakan keputusan itu. Hal-hal diatas terntu saja menuntut sebentuk perilaku positif manusia. Seperti : Leadership, Judgement, Determination, Integrity, Patience/Kecermatan, dan seterusnya untuk dapat melaksanakannya dengan baik. Emosi adalah sebentuk reaksi perasaan yang timbul bila menghadapi situasi dan kondisi tertentu. Dapat dianggap sebagai suatu kewajaran, tetapi tidak jarang sesungguhnya tidak bersifat rasional. Rasa Takut, Kesal, Kesepian, Patah Semangat, Frustasi, adalah contoh-contoh yang dapat berkembang menjadi potensi bahaya.
Sebentuk kondisi kemampuan kemanusiaan juga dituntut dalam berkegiatan di alam bebas. Apa yang sering kita dengar sebagai mental yang kuat dan emosi yang stabil itu yang dituntut. Tetapi uraian dari mental yang kuat itu sendiri jarang kita dengar. Pengertian mental itu sendiri adalah bagaimana “sikap berfikir kita dalam mengontrol aksi gerak tubuh/tindakan kita”. Dengan kata lain bagaimana kita terhadap sebentuk situasi dan kondisi: Menilai, Menganalisa, Merasionalisasikannya, Mengambil/Menentukan keputusan, serta Melaksanakan keputusan itu. Hal-hal diatas terntu saja menuntut sebentuk perilaku positif manusia. Seperti : Leadership, Judgement, Determination, Integrity, Patience/Kecermatan, dan seterusnya untuk dapat melaksanakannya dengan baik. Emosi adalah sebentuk reaksi perasaan yang timbul bila menghadapi situasi dan kondisi tertentu. Dapat dianggap sebagai suatu kewajaran, tetapi tidak jarang sesungguhnya tidak bersifat rasional. Rasa Takut, Kesal, Kesepian, Patah Semangat, Frustasi, adalah contoh-contoh yang dapat berkembang menjadi potensi bahaya.
d. Kondisi Kemampuan Pemahaman Lingkungan (Enviromental Skills)
Pamahaman akan segala bentuk sifat dan karakter dari lingkungan gunung dan hutan dituntut bagi pelaku yang berkegiatan disana. Segala sifat dan karakter lingkungan yang dapat menjadi potensi bahaya harus bisa dinilainya; tetapi sifat dan karakter yanhg dapat dimanfaatkan harus pula dapat dipahaminya. Sifat dan karakter lingkungan itu bukan dianggap sebagai musuh, tetapi bagaimana ia harus mampu bernegosiasi dengan segala kemampuan yang dimilinya. Ketidakmampuan memahami segala karakter dan sifat lingkungan dimana ia berkegiatan akan dapat menimbulkan potensi bahaya.
Pamahaman akan segala bentuk sifat dan karakter dari lingkungan gunung dan hutan dituntut bagi pelaku yang berkegiatan disana. Segala sifat dan karakter lingkungan yang dapat menjadi potensi bahaya harus bisa dinilainya; tetapi sifat dan karakter yanhg dapat dimanfaatkan harus pula dapat dipahaminya. Sifat dan karakter lingkungan itu bukan dianggap sebagai musuh, tetapi bagaimana ia harus mampu bernegosiasi dengan segala kemampuan yang dimilinya. Ketidakmampuan memahami segala karakter dan sifat lingkungan dimana ia berkegiatan akan dapat menimbulkan potensi bahaya.
3. Nasib Buruk dan Baik
Hal utama dari sikap pendekatan kita
terhadap nasib baik dan buruk mungkin yang terbaik adalah sebagai
berikut: Adanya nasib buruk adalah sesuatu yang tak dapat dihindari.
Apabila terjadi pada kita, terimalah sebagai suatu realita bukan dengan
reaksi emosi yang negatif seperti : Kesal, Menyesali, Marah dst. Hal
terpenting yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita dapat
mengatasinya dengan bijak dan tepat. Mendapatkan nasib baik harus kita
sadari hanya benar-benar sebuah keberuntungan. Hal ini jangan kita
jadikan sandaran untuk tindakan-tindakan atau kegiatan-kegiatan
selanjutnya. Tidak rela menerima adanya nasib buruk dan tidak menyadari
itu hanyalah sebuah keberuntungan, akan menjadi suatu potensi bahaya
bagi kita.
sekian dari saya(bayu.wanapala@gmail.com) semoga materi di atas dapat bermanfaat
untuk usul dan saran silahkan dikirim ke bayuespero@gmail.com
jika ada salah kata mohon di maafkan
SALAM RIMBA!!!!!!!!!!!
WANAPALA!!!!!!!!!!
sekian dari saya(bayu.wanapala@gmail.com) semoga materi di atas dapat bermanfaat
untuk usul dan saran silahkan dikirim ke bayuespero@gmail.com
jika ada salah kata mohon di maafkan
SALAM RIMBA!!!!!!!!!!!
WANAPALA!!!!!!!!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar